Menu
Rupiah Terus Melemah 5 Hari Terakhir

Rupiah Terus Melemah 5 Hari Terakhir

Rupiah menurun lagi pada dolar Amerika Serikat (AS) bersamaan kekuatiran kembali Bank Sentra AS The Fed mengaplikasikan lagi peraturan pengetatan keuangan.

Shandy Aulia 5 bulan ago 41

CNBC Media – Rupiah menurun lagi pada dolar Amerika Serikat (AS) bersamaan kekuatiran kembali Bank Sentra AS The Fed mengaplikasikan lagi peraturan pengetatan keuangan.

Dikutip dari Refinitiv, rupiah ditutup menurun ke tingkat Rp15.695/US$ atau terevisi 0,03%. Pengurangan nilai rupiah ini jadikan performa jelek sepanjang 5 hari berurut. Ini jadikan ada kekuatiran rupiah akan membobol tingkat psikis Rp 15.700/US$ kembali.

Sementara index dolar AS (DXY) pada jam 14.58 WIB turun tipis 0,10% jadi 105,75. Angka ini tambah rendah dibanding penutupan perdagangan Jumat lantas (10/11/2023) yang ada di angka 105,86.

Pasar keuangan ini hari belum juga memperlihatkan ada sentimen krusial baik dari dalam negeri atau luar negeri. Tidak ada data ekonomi yang di-launching yang bisa memacu pergolakan harga yang bermakna.

Meski begitu, Bank Indonesia (BI) memberikan laporan jika terjadi capital outflow pada masa 6-9 November. Investor asing lakukan net sell di pasar keuangan lokal, mencatat jual neto sejumlah Rp1,27 triliun, dengan pemasaran neto Rp1,59 triliun di pasar SBN, Rp1,35 triliun di pasar saham, dan pembelian neto Rp1,66 triliun di SRBI.

Perkembangan perekonomian Indonesia pada kwartal III-2023 capai 4,94% secara tahunan (yoy), sedangkan perkembangan kuartalan (qtq) cuma 1,60%. Angka ini tambah rendah dibanding kwartal II-2023 yang menulis perkembangan tahunan sejumlah 5,17%. Ada pengurangan dari kwartal III-2022 yang capai 5,73% (yoy).

Pengurangan persediaan devisa Indonesia jadi perhatian, menurun jadi US$133,1 miliar pada Oktober 2023 dari posisi sebesar US$134,9 miliar pada September 2023. Ini terpengaruhi oleh pembayaran hutang luar negeri pemerintahan dan usaha stabilisasi nilai ganti rupiah sebagai tanggapan pada bertambahnya ketidakjelasan pasar keuangan global.

Di luar negeri, Ketua Bank Sentra AS (The Fed), Jerome Powell, umumkan jika capai sasaran inflasi susah, memungkinkannya ada pengetatan kembali. Pengakuan ini menyebalkan aktor pasar yang sudah menyaksikan melemahnya data tenaga kerja AS sebagai tanda melunaknya The Fed.

Sebagai hasilnya, piranti FedWatch memperlihatkan jika 14,1% aktor pasar memprediksi The Fed akan meningkatkan suku bunga sejumlah 25 pangkalan point. Dalam pada itu, 26% aktor pasar yakini peningkatan suku bunga bisa terjadi pada Januari 2024, capai 5,50-5,75%.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By