Menu
Rupiah Terperosok Nilai Tukar Dollar Tembus Rp 15.647

Rupiah Terperosok Nilai Tukar Dollar Tembus Rp 15.647

Kelompok pebisnis mulai ketar-ketir hadapi rupiah yang terperosok nilai tukar dollar tembus Rp.15.647 yang terjadi beberapa hari akhir.

Shandy Aulia 6 bulan ago 12

CNBC Media – Kelompok pebisnis mulai ketar-ketir hadapi rupiah yang terperosok nilai tukar dollar tembus Rp.15.647 yang terjadi beberapa hari akhir. Sekarang ini, mata uang Garuda tetap ketahan di tingkat Rp 15.600 per dolar AS.

Kelompok ekonom juga menyaksikan, pelemahan rupiah ini akan dirasa khususnya untuk aktor usaha yang bahan baku produksinya dikuasai produk import, seperti bidang industri manufacturing, minuman dan makanan, electronica, tekstil, sampai petrokimia.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius, mengaku keadaan itu pasti memberikan rintangan pada produksi industri. Karena, ia menjelaskan harga bahan baku import saja sekarang masih mahal karena pelemahan kurs rupiah.

“Rintangan nya lebih harga bahan baku import yang mahal dalam mata uang asingnya. Sudah tentu rupiah yang konstan akan menolong industri pada umumnya,” kata Vidjongtius ke CNBC Indonesia, seperti d ikutip Senin (9/10/2023).

Walau demikian, Vidjongtius memandang, pelamahan rupiah pada dolar AS sekarang ini tetap termasuk teratasi karena masih tetap sedikit di bawah keadaan di saat tahun akhir lalu yang gerakannya sampai ke tingkat Rp 15.700 per dolar AS.

“Jika saksikan gerakan rupiah tahun akhir lalu di tutup di Rp 15.700 dan saat ini di Rp 15.600 rasanya kisaran fluktuasinya masih tipis hingga imbas peralihan kurs tetap teratasi,” katanya.

Ketua Umum Kombinasi Pebisnis Makanan dan Minuman Semua Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengutarakan cukup banyak produsen di industri makanan-minuman yang memercayakan bahan baku import. Akhirnya saat kurs dolar AS naik, karena itu harga bahan baku juga ikut-ikutan naik.

“Memang ini pasti punya pengaruh pada bahan baku import, baik bahan baku atau barang modal seperti beberapa mesin pada proses penempatan baru. Yang cukup mencemaskan ada naiknya harga dasar karena bahan baku kita banyak import,” kata Adhi.

Ia meneruskan, peningkatan kurs dolar AS berpengaruh pada ongkos logistik, sewa kapal sampai container. Beban kenaikan nilai ganti rupiah pada dolar AS itu bisa menjadi tambahan ke biara produksi, sedangkan keadaan dalam negeri tidak mungkin naik harga karena daya membeli sedang kurang.

Harus perusahaan mempertaruhkan margin supaya tidak begitu punya pengaruh berat pada pemasaran. Disamping itu, kurangi berat atau resizing jadi pilihan untuk industri minuman dan makanan.

“Pilihan ke situ ada selalu (resizing), kita berusaha bagaimana agar tidak rugi, tentu saja efektivitas, penelusuran alternative bahan baku dan resizing ukuran jadi alternative . Ya (resizing) seperti Chiki dan lain-lain,” sebutkan Adhi.

Wakil Ketua Umum Koordinator IV Kadin Indonesia Carmelita Hartoto, yang memegang sebagai Ketua Sektor Perhubungan dan Logistik APINDO, ikut memperjelas untuk manufacturing yang fokus export pasti pengokohan dola ini akan berpengaruh positif.

Tetapi, untuk aktor usaha yang mempunyai hutang dalam dolar dan penghasilannya berbentuk rupiah pasti pelemahan rupiah bisa menjadi rintangan tertentu. Begitupun dengan aktor usaha yang banyak memakai barang import sebagai bahan baku produksinya.

“Pasti pelemahan rupiah akan menambahkan biaya perusahaan. Karena itu di keadaan semacam ini perlu ketelitian saat kurangi pos-pos beban usaha, penangguhan investasi dan beragam cara strategy yang lain,” papar Carmelita.

“Tetapi tidak harus juga direspon dengan terlalu berlebih karena ini dinamika usaha. Ketar ketir ya tentu lah,” jelasnya.

Ketua Umum Kombinasi Perusahaan Export Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno benarkan, pengokohan dolar AS pada rupiah adalah Wind Fall atau durian runth untuk exportir yang elemen produksi dan bahan baku nya sebagian besar Rupiah.

Tetapi, ia memperjelas tidak semua exportir dapat menikmatinya karena banyak pula exportir di Indonesia yang bahan baku produksinya tetap manfaatkan beberapa barang dari import.

“Tapu jika yang bahan baku nya banyak USD, tidak bisa Windfall , cuma paar saja. Manufactur memang bahan baku dan penolong masih tetap ada elemen dolar AS tetapi produksi biaya nya atau manufaktur biaya kan dalam rupiah sebagaimana untuk energi dan tenaga kerja,” tegas Benny.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo menambah penekanan pelemahan rupiah sepanjang ini mempunyai potensi tidak cuma menekan ongkos produksi industri itu, tetapi bisa juga menaikkan harga barang import dua komoditas khusus Indonesia, yakni minyak mentah dan harga beras yang mempunyai potensi mengurangi inflasi langsung dirasa warga umu.

“Walau sebenarnya, keperluan import beras sedang tinggi karena menyusutnya produksi nasional. Jadi signifikan untuk pemerintahan agar selekasnya memitigasi dampak negatif naiknya harga beras itu dengan pengokohan peranan Bulog dan memberikan stimulan keuangan untuk substitusi beras dengan pangan karbohidrat yang lain, yang bukan sekedar anjuran,” tegas Banjaran.

Ia mengingati jika keadaan pelemahan rupiah pada dolar tetap mempunyai potensi bersambung ingat keadaan external terutama di Amerika Serikat masih penuh ketidakjelasan.

Salah satunya karena arah peraturan The Fed yang hawkish dan ada dampak negatif government shutdown AS jika belum juga bisa menyetujui bujet deadline pada 17 November kedepan.

Jika government shutdown terjadi, karena itu launching data inflasi AS akan disetop. Walau sebenarnya, menurut dia, sejauh ini Gubernur The Fed Jerome Powell selalu menjelaskan akan tentukan peraturan moneternya berdasar perubahan data.

Tanpa launching data signifikan itu, arah peraturan The Fed semakin lebih susah untuk diterka. Dengan demikian, ia memprediksikan nilai ganti Rupiah akan tertekan, s/d rapat dewan gubernur The Fed atau Federasi Open Pasar Commitee (FOMC) Rapat 1 November 2023 dan 17 November deadline persetujuan bujet itu.

“Kami menyaksikan keadaan pelemahan Rupiah akan mencemaskan sampai tahun akhir, dan dibutuhkan pengokohan dari interferensi bank sentra,” kata Banjaran.

Satu diantaranya ialah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sekarang ini telah mencatat progress positif, namun tetap belum cukup buat menahan imbas tertekannya nilai ganti yang dikarenakan oleh masih kurangnya ketertarikan investor asing untuk instrument itu.

“Diperlukan interferensi semakin kuat untuk menarik modal asing masuk kembali lagi ke Indonesia,” katanya.

Sebagai info, nilai ganti rupiah condong tertekan di depan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang minggu tempo hari. Berdasar data Refinitiv, rupiah ditutup di angka Rp15.605/US$ atau kuat 0,03% pada dolar AS pada Jumat (6/10/2023).

Posisi ini berkebalikan dengan penutupan perdagangan Kamis (5/10) yang kuat 0,10%. Tetapi, secara mingguan, rupiah terlihat menurun sejumlah 1% atau menurun dalam lima minggu beruntun.

Tags
– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By