Menu
Rupiah Perkasa Saat BI Tahan Suku Bunga 6%

Rupiah Perkasa Saat BI Tahan Suku Bunga 6%

Nilai ganti rupiah pada dolar Amerika Serikat (AS) sukses ditutup kuat ke tingkat Rp15.553 per dolar AS pada Kamis, (23/11/2023) sesudah Bank Indonesia (BI)

Shandy Aulia 5 bulan ago 38

CNBC Media – Nilai ganti rupiah pada dolar Amerika Serikat (AS) sukses ditutup kuat ke tingkat Rp15.553 per dolar AS pada Kamis, (23/11/2023) sesudah Bank Indonesia (BI) meredam suku bunga referensi di tingkat 6%. Mata uang teritori Asia terlihat bervariatif, tetapi dolar AS malah lemah di sore ini.

Berdasar data Bloomberg d ikutip Kamis, (23/11/2023) jam 15.00 WIB, rupiah ditutup kuat 0,14% atau 22 point ke tingkat Rp15.553 per dolar AS, sesudah ditutup lemas pada perdagangan tempo hari. Dalam pada itu, index mata uang Negeri Paman Sam terlihat menurun ke posisi 103,66 di sore ini.

Sejumlah mata uang Asia yang tetap tahan pada dolar AS, contohnya yen Jepang kuat 0,23%, dolar Singapura kuat 0,16%, dolar Taiwan naik 0,31%, won Korea naik 0,24%, peso Filipina kuat 0,17%, dan yuan China melonjak 0,36%.

Dalam pada itu, mata uang Asia yang menurun pada dolar AS yaitu dolar Hongkong menurun 0,02%, rupee India terevisi 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,10%, dan baht Thailand menurun 0,08%.

Direktur Keuntungan Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan, keputusan BI yang meredam suku bunga referensi atau BI7DRR di tingkat 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Kamis, (23/11/2023) sudah searah dengan perkiraan kesepakatan riset.

Selainnya suku bunga referensi BI7DRR yang ditahan di 6%, suku bunga Deposit Facility sejumlah 5,25%, dan suku bunga Lending Facility masih tetap sejumlah 6,75%.

“Masuk tahun politik, pemerintahan tetap konsentrasi membuat dasar untuk capai status high penghasilan pada tahun 2045. Esensial Indonesia tidak berbeda karena hanya faktor tahun politik,” tutur Ibrahim dalam penelitian pada Kamis, (23/11/2023).

Di sisi lain, dari sentimen global Bank Sentra AS Federasi Reserve tetap memberi signal hawkish yang memunculkan ketidakjelasan berkenaan kapan bank sentra berniat untuk memulai memotong suku bunga.

Ibrahim menjelaskan, saat The Fed menjaga prospect suku bunganya lebih tinggi untuk periode waktu lebih lama, beberapa aktor pasar kurangi sejumlah pertaruhan jika Fed mulai akan memotong suku bunganya paling lamban di bulan Maret 2024.

Disamping itu, pasar memperhatikan beberapa langkah stimulan selanjutnya dari pemerintahan China, karena Beijing kelihatan menyiapkan semakin banyak support moneter untuk bidang property yang tersuruk.

Konsentrasi sekarang ini tertuju pada data index manager pembelian China untuk bulan November 2023 yang hendak di-launching pekan kedepan. “Untuk perdagangan esok, mata uang rupiah diprediksikan naik-turun tetapi ditutup kuat di bentang Rp15.520- Rp15.600,” ujarnya.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By