Menu
Rupiah Melemah Ditutup Rp 15.513

Rupiah Melemah Ditutup Rp 15.513

Mata uang rupiah dibuka menurun ke posisi Rp15.513 per dolar AS selesai Bank Sentra Amerika Serikat Federasi Reserve (The Fed) memberikan kode pemotongan suku bunga

Shandy Aulia 4 bulan ago 11

CNBC Media – Mata uang rupiah dibuka menurun ke posisi Rp15.513 per dolar AS selesai Bank Sentra Amerika Serikat Federasi Reserve (The Fed) memberikan kode pemotongan suku bunga minimal 3x tahun depannya ke posisi 4,6%. Berdasar data Bloomberg, mata uang rupiah dibuka turun tipis 0,07% atau 11 point ke tingkat Rp15.513 per dolar AS.

Sementara rupiah hari ini index dolar kuat 0,10% ke posisi 102,06. Adapun beberapa mata uang teritori Asia yang lain bergerak bervariatif pada dolar AS. Yen Jepang kuat 0,32%, won Korea naik 0,11%, dolar Hongkong kuat 0,01%, yuan China kuat 0,19%.

Dalam pada itu, ringgit Malaysia menurun 0,04% dan peso Filipina turun juga 0,21% dan rupee India menurun 0,09% pada dolar AS. Direktur Keuntungan Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menerangkan The Fed menjelaskan jika suku bunga sekarang sudah capai pucuknya pada 5,4%, dan bank sentra akan turunkan suku bunga minimal 3x di tahun 2024 jadi 4,6%.

Ketua Fed Jerome Powell menjelaskan mata uang rupiah walaupun terlampau awal untuk mengatakan kemenangannya pada inflasi, dia tetap memproyeksikan prospect inflasi lebih rendah di tahun 2023. Signal dovish The Fed memacu bertambahnya pertaruhan berkenaan kapan bank itu mulai akan turunkan suku bunganya.

Di pasar berjangka, beberapa pedagang memprediksi kemungkinan lebih dari 70% The Fed akan turunkan suku bunga sejumlah 25 pangkalan point di bulan Maret 2024. Investor pertimbangkan kesempatan 67% untuk pengurangan 25 pangkalan point pada Mei 2024.

“Tetapi ketidakjelasan berkenaan pengurangan suku bunga kemungkinan akan kurangi kepercayaan diri dalam beberapa waktu kedepan, khususnya karena kemampuan ekonomi AS masih bisa memacu kenaikan inflasi. Data terbaru memperlihatkan inflasi index harga customer masih tetap konstan pada bulan November, sedangkan pasar tenaga kerja masih tetap kuat,” ucapnya dalam penelitian harian, d ikutip Kamis (14/12/2023).

Di Asia, pasar saat ini menanti kode ekonomi selanjutnya tentang Tiongkok dari data produksi industri dan pemasaran retail yang di-launching di hari Jumat, sesudah rangkaian pembacaan yang menyebalkan pada bulan November.

Sesudah data inflasi yang kurang kuat awal minggu ini, pembacaan di hari Rabu memperlihatkan kekurangan yang terus-terusan dalam kegiatan utang dan tingkat likuiditas lokal. Data itu menggerakkan semakin banyak ajakan untuk beberapa langkah stimulan dari Beijing, walaupun pemerintahan rupiah masih tetap konvensional saat memberi semakin banyak support pajak.

Dalam pada itu, kata Ibrahim, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) meningkatkan prediksi kemajuan ekonomi pada Asian Development Outlook (ADO) Desember 2023 untuk beberapa negara berkembang di Asia dan Pasifik jadi 4,9 % untuk tahun ini dari prediksi 4,7 % pada September 2023.

Adapun ADB memprediksi ekonomi China tumbuh sejumlah 5,2 % di tahun ini, bertambah dari perkiraan awalnya yang sejumlah 4,9 %, sesudah konsumsi rumah tangga dan investasi public menggerakkan perkembangan pada kwartal ke-3 .

Sementara untuk Indonesia, ADB menjaga prediksi kemajuan ekonomi di tahun ini sejumlah 5 %, dengan prediksi inflasi yang dipertahankan sejumlah 3,6 %.

Dari segi inflasi, prospect inflasi beberapa negara berkembang di Asia-Pasifik untuk tahun ini sudah di turunkan jadi 3,5 % dari prediksi awalnya sejumlah 3,6 %.

Untuk tahun depannya, inflasi diprediksi bertambah jadi 3,6 % dibanding prediksi awalnya sejumlah 3,5 %. Untuk perdagangan ini hari, Jumat (15/12/2023) Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah naik-turun tetapi ditutup kuat direntang Rp15.470- Rp15.710 per dolar AS.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By