Menu
Rupiah Kembali Menguat Rp 15.485

Rupiah Kembali Menguat Rp 15.485

Mata uang rupiah ditutup kuat ke tingkat Rp15.485 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir minggu, Jumat (1/12/2023)

Shandy Aulia 4 bulan ago 14

CNBC Media – Mata uang rupiah ditutup kuat ke tingkat Rp15.485 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir minggu, Jumat (1/12/2023) saat index PMI Indonesia November naik ke 51,7. Berdasar data Bloomberg, rupiah ditutup kuat 0,16% atau 25 point ke tingkat Rp15.485 di depan dolar AS.

Sementara itu index dolar terlihat menurun 0,10% ke tingkat 103,320. Mata uang Asia yang lain bergerak bervariatif condong kuat di depan dolar AS. Bath Thailand kuat 0,31%, rupee India kuat 0,06%, peso Filipina naik 0,15%.

Selanjutnya mata uang yang menurun ialah won Korea turun 1,21%, ringgit Malaysia menurun 0,50%, yuan China terkikis 0,13% dan yen Jepang turun 0,01%.

Direktur Keuntungan Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan data ekonomi hari Kamis memperlihatkan jika Federasi Reserve kemungkinan akan meningkatkan suku bunganya dan mungkin mulai lakukan kelonggaran pada tengah tahun depannya, yang umumnya adalah faktor negatif pada dolar.

Ketidakjelasan berkenaan kekuatan peralihan peraturan The Fed menolong dolar sembuh secara tajam dari tingkat paling rendah semenjak tengah Agustus. Data tadi malam memperlihatkan jika index harga PCE yakni alat pengukuran inflasi opsi The Fed masih tetap ada di atas sasaran bank sentra sejumlah 2% di bulan Oktober.

“Powell akan menyampaikan pidato pada dua acara terpisahkan di hari Jumat, dengan peralihan apa pun itu pada retorika Ketua Fed beberapa jadi konsentrasi sesudah sejumlah petinggi Fed yang lain mengatakan jika bank sentra telah usai meningkatkan suku bunga,” ucapnya dalam penelitian harian, Jumat (1/12/2023).

Sejumlah anggota Fed menulis minggu ini jika inflasi sudah turun dengan krusial tahun ini, walaupun tetap ada di atas range sasaran bank sentra. Dolar alami pengurangan tajam di bulan November, di tengah-tengah bertambahnya kepercayaan jika The Fed sudah usai meningkatkan suku bunga.

Dalam pada itu, S&P Global menulis Purchasing Manager’s Indeks (PMI) Manufacturing Indonesia kuat ke tingkat 51,7 pada November 2023, atau bertambah 0,2 point dari 51,5 pada Oktober 2023.

Economics Associate Director S&P Global Pasar Intelligence Jingyi Pan menyebutkan, posisi itu memperlihatkan peningkatan bisa lebih cepat pada keadaan bidang manufacturing, peningkatan PMI ini di tanggapan positif oleh pasar.

Data PMI November memperlihatkan jika bidang manufacturing Indonesia terus melakukan ekspansi, walau data headline terbaru 51,7 tetap di bawah rerata kwartal III/2023, yakni 53,2. Dan tingkat keyakinan usaha naik dibanding bulan sebelumnya. Tetapi, tetap di bawah rerata periode panjang.

Menurut S&P Global, order baru mendatang untuk barang produksi Indonesia kembali naik pada November 2023. Ini disokong oleh pembaruan keadaan keinginan dan pengembangan pangkalan pelanggan.

Walau begitu, S&P Global menulis tingkat perkembangan adalah yang paling lamban pada masa enam bulan sekarang ini dan termasuk sedang pada umumnya, yang dipacu oleh berkurangnya keinginan asing di bulan ini.

Ibrahim memproyeksikan untuk Senin minggu kedepan, rupiah diprediksikan naik-turun tetapi ditutup menurun direntang Rp15.450- Rp15.520 per dolar AS.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By