Menu
Rupiah Anjlok Parah Hingga Rp 15.860 Per Dollar

Rupiah Anjlok Parah Hingga Rp 15.860 Per Dollar

Nilai ganti rupiah ini hari, Senin (23/10/2023) akan berfluktuasi tetapi akan ditutup menurun karena fluktuasi di pasar keuangan global termasuk dolar AS sesudah eskalasi perang Israel versus Hamas yang semakin makin tambah meluas.

Shandy Aulia 6 bulan ago 13

CNBC Media – Nilai ganti rupiah ini hari, Senin (23/10/2023) akan berfluktuasi tetapi akan ditutup menurun karena fluktuasi di pasar keuangan global termasuk dolar AS sesudah eskalasi perang Israel versus Hamas yang semakin makin tambah meluas.

Pada perdagangan minggu tempo hari, Jumat (20/10) rupiah ditutup menurun menembus ke Rp15.872 atau terevisi 0,36% dari tempatnya di awal pembukaan Rp15.845 per dolar AS. Sementara index mata uang negeri Paman Sam makin gagah sesudah kuat 0,09% ke tingkat 106,35.

Direktur Keuntungan Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memandang pelemahan nilai ganti rupiah yang tetap merayap dekati Rp15.900 per dolar AS jadi imbas dari menghangatnya keadaan geopolitik Timur tengah.

Keadaan ini sudah mengakibatkan beberapa aktor usaha waspada beberapa aset beresiko. Dalam pada itu, ada dampak dari komentar bersuara dovish Ketua The Fed Jerome Powell yang menjelaskan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi AS sudah menolong perkuat keadaan keuangan hingga kurangi keperluan akan peningkatan suku bunga selanjutnya.

Gerakan rupiah ini hari dikuasai oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang meningkatkan suku bunga referensi ke 6% untuk jaga konsistensi rupiah di tengah-tengah tingginya ketidakjelasan pasar keuangan global.

Dari sisi interferensi di pasar valuta asing (valas), sambungnya, BI akan percepat usaha pengkajian pasar uang rupiah dan pasar valas.

“Untuk perdagangan hari, Senin (23/10/2023), mata uang rupiah akan bergerak naik-turun dan mempunyai potensi ditutup menurun ke bentang Rp15.860 sampai Rp15.940,” kata Ibrahim dalam penelitian d ikutip, Senin (23/10/2023).

Dalam pada itu, Ketua Komite Masih tetap Peraturan Public, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Chandra Wahjudi menjelaskan, peningkatan suku bunga referensi jadi 6% sebetulnya bukan suatu hal yang diharap di tengah-tengah keadaan ekonomi global yang sedang lemas.

Masalahnya peningkatan suku bunga referensi dicemaskan akan memberi beban tambahan pada aktivitas usaha. “Di lain sisi, kami pahami peningkatan suku bunga untuk jaga kestabilan nilai ganti rupiah,” tutur Chandra ke Usaha, d ikutip Minggu (22/10/2023).

Karena itu, kata Chandra, pebisnis melihat peningkatan suku bunga referensi BI sejumlah 25 bps jadi 6% semestinya bisa selekasnya memantapkan nilai ganti rupiah pada dolar Amerika Serikat.

Kebalikannya, jika nilai ganti rupiah terus menurun malah akan beresiko menyumbangkan inflasi. Musababnya, nilai rupiah yang jeblok akan menambahkan overhead biaya aktor usaha. Khususnya usaha di bidang yang tetap memercayakan import untuk bahan baku produksinya.

“Mau tak mau [pelaku usaha] harus membuat rekonsilasi nilai jual. Ini beresiko menyumbangkan inflasi,” katanya. Chandra melihat jika nilai ganti rupiah bisa terus bangun selesai peningkatan suku bunga referensi, karena itu harga-harga bisa teratasi dan daya membeli warga dapat selalu terlindungi.

Begitu juga dengan kenaikan inflasi bisa dijauhi. “Kami benar-benar mengharap karena ada peningkatan suku bunga referensi itu kemajuan ekonomi nasional tetap di atas 5%,” kata Chandra.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By