Menu
Rekor Baru Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 15.800 Per Dollar

Rekor Baru Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 15.800 Per Dollar

Rupiah menurun pada dolar Amerika Serikat (AS) di saat beda di antara US Treasury dan SBN makin tipis dan keputusan Bank Indonesia (BI) hal suku bunga.

Shandy Aulia 6 bulan ago 11

CNBC Media – Rupiah menurun pada dolar Amerika Serikat (AS) di saat beda di antara US Treasury dan SBN makin tipis dan keputusan Bank Indonesia (BI) hal suku bunga.

Dikutip dari Refinitiv, rupiah dibuka di angka 15.780/US$ atau menurun 0,28% pada dolar AS bahkan juga di tengah-tengah perdagangan sebelumnya sempat tembus tingkat psikis Rp15.800/US$. Posisi ini adalah yang terberat semenjak 9 April 2020.

Sementara index dolar AS (DXY) pada Kamis (19/10/2023) jam 09.04 WIB, ada pada posisi 106,58 atau meningkat tipis 0,02% bila dibanding penutupan perdagangan Rabu (18/10/2023) yang ditutup di angka 106,56.

Di hari ini, Bank Indonesia (BI) akan melaunching hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) hal suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Aktor pasar mulai terbelah saat memprediksi suku bunga referensi BI. Sebagian besar instansi memang tetap memprediksi BI akan menjaga suku bunga referensi di tingkat 5,75% di bulan ini. Tetapi, prediksi bila BI akan menaikkan suku bunga mulai ada.

Kesepakatan pasar yang digabungkan CNBC Indonesia memproyeksi bank sentra RI akan meredam suku bunga referensi BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Dari 14 lembaga yang terturut dalam pembangunan kesepakatan, 13 lembaga/instansi memprediksi BI akan meredam suku bunga di tingkat 5,75%. Suku bunga Deposit Facility sekarang ada pada posisi 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sejumlah 6,50%.

Satu instansi memprediksi peningkatan suku bunga sejumlah 25 pangkalan points (bps) jadi 6,0%.

Suku bunga sejumlah 5,75% telah berlaku semenjak Januari tahun ini. BI menaikkan suku bunga sejumlah 225 bps dari 3,50% pada Juli 2022 jadi 5,75% pada Januari tahun ini.

Bank Indonesia diprediksi akan meredam suku bunga untuk jaga kestabilan nilai ganti rupiah di tengah-tengah robohnya mata uang Garuda dan derasnya capital outflow.

Nilai ganti rupiah anjlok 1,75% sepanjang Oktober ini, lebih besar dibanding pada September 2023 yang terdaftar 1,48% dan Agustus yang capai 1%.

Menyikapi hal itu, Ekonom CNBC Indonesia, Anggito Abimanyu, menjelaskan BI telah waktunya meningkatkan suku bunga untuk memukul spekulan dan memperjelas kedatangan mereka di pasar keuangan Indonesia.

Menurut dia, salah satunya pemicu dari menurunnya rupiah sekarang ini ialah jumlahnya spekulan yang ambil keuntungan dari kemelut geopolitik di Timur tengah. Mereka beramai-ramai jual rupiah hingga mata uang Garuda tertekan.

“Sebagai bank sentra BI harus berani ambil perlakuan termasuk dengan meningkatkan suku bunga. Saya anggap waktunya BI memukul spekulan,” tutur Anggito dalam dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 16/10/2023).

Anggito mengingati perekonomian Indonesia lebih gantungkan ekonominya pada konsumsi hingga peningkatan suku bunga sejumlah 25 bps tidak terlampau berpengaruh ke ekonomi.

Anggito mengaku BI sudah keluarkan beberapa amunisi untuk mengusung mata uang Garuda, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mengupdate ketentuan Devisa Hasil Export (DHE) Sumber Daya Manusia. Tetapi, cara barusan belumlah cukup.

Sementara bila disaksikan dari beda di antara US Treasury tenor sepuluh tahun dengan SBN tenor sepuluh tahun telah makin tipis. US Treasury tenor sepuluh tahun sekarang ini mempunyai imbal hasil sejumlah 4,902 sementara SBN tenor sepuluh tahun mempunyai imbal hasil di angka 6,915.

Ini yang membuat penekanan rupiah makin kental karena kekuatan capital outflow makin bertambah besar ingat investasi di US Treasury akan makin memikat.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By