Menu
Nilai Tukar Rupiah Tertunduk 0,12% di Kisaran Rp 16.000 Senin Ini

Nilai Tukar Rupiah Tertunduk 0,12% di Kisaran Rp 16.000 Senin Ini

Nilai ganti rupiah menurun 0,12% atau 19 point ke Rp15.938 per dolar AS. Index greenback yang menghitung kemampuan dolar di depan mata uang khusus condong konstan di 106,61.

Shandy Aulia 6 bulan ago 21

CNBC Media – Nilai ganti rupiah menurun 0,12% atau 19 point ke Rp15.938 per dolar AS. Index greenback yang menghitung kemampuan dolar di depan mata uang khusus condong konstan di 106,61.

Riset Pasar Mata Uang dan Komoditas Lukman Leong menjelaskan, data kuat PDB AS membuat The Fed akan menjaga suku bunga tinggi semakin lama.

The Fed hampir dipastikan akan menjaga suku bunga pada minggu kedepan. Tetapi, harus diingat jika The Fed tetap mengagendakan tatap muka pada Desember 2023.

Tidak itu saja, menurut dia sentimen yang mempengaruhi rupiah selainnya dari dolar AS ialah eskalasi Perang Hamas versus Israel di Timur tengah yang semakin menghangat, dan perlambatan ekonomi di China.

“Dan dari lokal, tentu saja investor menunggu data inflasi Indonesia di hari Rabu. Kesempatan rupiah menurun di atas Rp16.000 per dolar AS benar-benar terbuka.

Kisaran di Rp15.800-Rp16.100,” tutur Lukman ke Usaha, Minggu (29/10/2023) Pemerhati Pasar Keuangan, Ariston Tjendra menjelaskan, berkaitan keputusan suku bunga The Fed minggu kedepan, pasar tetap berekspektasi tingkat suku bunga masih ditahan di tingkat yang masih sama yaitu 5,25%-5,5%. Tetapi, rupiah tetap beresiko menurun pada dolar AS.

“Rupiah tetap bergerak menurun di sekitar Rp15.900 pada dolar AS di minggu ini. Ini memberikan indikasi pelemahan rupiah tetap terbuka, demikian pula kekuatan pelemahan ke tempat Rp16.000,” tutur Ariston ke Usaha, d ikutip Minggu, (29/10/2023).

Meski begitu, beberapa petinggi The Fed awalnya menjelaskan jika tingkat imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi telah menolong meredam pergerakan peningkatan harga-harga, hingga, menurut dia belum membutuhkan peningkatan suku bunga kembali.

US Treasury Yield tenor sepuluh tahun ada di tingkat 4,84% pada Jumat, (27/10/2023). Disamping itu, ia menjelaskan sentimen minggu kedepan dari Negeri Paman Sam akan di-launching beberapa data ekonomi penting yang dapat gerakkan dolar AS seperti data tenaga kerja, data index kegiatan usaha AS.

“Pasar tetap pertimbangkan rumor perlambatan ekonomi global. Beberapa data ekonomi dari Eropa seperti data inflasi dan PDB, dan data dari China yakni index kegiatan manufacturing akan memberi deskripsi berkenaan perlambatan ekonomi global.

Rumor ini dapat menekan asset beresiko seperti rupiah,” ujarnya. Adapun, berdasar data pemerintahan AS yang di-launching Kamis, (26/10/2023), produk lokal bruto (PDB) AS bertambah 4,9% pada kwartal III/2023 dibanding masa yang masih sama tahun awalnya (year-on-year/yoy).

Perkembangan PDB ini ada di atas prediksi pasar yang memprediksi PDB tumbuh 4,3% dan lebih tinggi dari perkembangan PDB kwartal II/2023 sejumlah 2,1%. Melejitnya ekonomi AS memberikan indikasi The Fed akan menaikkan lagi suku bunga referensi, minimal sampai tahun akhir.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By