Menu
Kondisi Geolopolitik Global Menurut Schroder Pengaruhi Minat Investor

Kondisi Geolopolitik Global Menurut Schroder Pengaruhi Minat Investor

Tiga pekan lebih, semenjak meletusnya perang Timur tengah antara Palestina-Israel dan sepertinya tak menunjukan titik terang perdamaian.

investor 6 bulan ago 13

CNBC Media – Tiga pekan lebih, semenjak meletusnya perang Timur tengah antara Palestina-Israel dan sepertinya tak menunjukan titik terang perdamaian.

Konfrontasi Israel yang tidak mau mengakui kedaulatan Palestina, mengakibatkan perang berkecamuk dan telah memakan ribuan orang tewas, dan ratusan bangunan hancur.

Kondisi tersebut, memaksa dunia harus melakukan rekonsiliasi, namun kendati demikian, gencatan senjata nilhil dilakukan, lebih lanjut pada sidang umum dewan keamanaan berhasil menyetujui gencatan senjata, namun nyatanya perang makin membabi buta.

Perang tersebut tidak hanya berdampak pada bagian Timur Tengah saja, nyatanya telah menyebabkan negara-negara dunia terlibat dan merasakannya.

Ketidakjelasan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam pekan teakhir, menjadi indikasi dari adanya perang yang tak berkesudahan.

Disisi lain, konflik yang sudah lama, dan menjadi isu global tersebut mambuat para pelaku investasi mewaspadai akibat adanya konflik seperti ini.

Dilansir dari antaranews Chief Executive Officer PT Schroder Investment Management Indonesia, Michael Tjoajadi mengungkapkan bahwa kondisi geopolitik global memberikan dampak risiko jangka pendek, serta mempengaruhi investor.

Lebih lanjut adalah investor asing yang akan masuk ke Indonesia, terlebih lagi saat ini Indonesia sudah memasuki tahun politik.

Menurut Michael juga, terkait pemodalan ia masih merujuk pada risiko investasi jangka Panjang, bukan hanya satu tahun, demikian sehingga masih menjadi pertanyaan apakah 2024 menjadi waktu yang tepat bagi para investor.

Memasuki pasar, saat pasar sedang terkoreksi terlibih investor saat ini terus fokus pada sektor dan industry tertentu.

Michael juga menambahkan, bahwa melihat geliat saat ini pada peta investasi dan fokus investor institusi terletak pada 3D, yakni lebiih lanjut ia jelaskan, demografi, deglobalisasi, dan Artificial Intelligence (AI).

Pergesesaran menuju energi hijau atau yang biasa disebut dekarbonisasi dan keberlanjutan menjadi salah satu pendorong utaman. Demikian juga dengan ketertarikan investor pada perusahaan yang menciptakan solusi inovatif untuk menangani perubahan iklim.

Fokus utama dari perusahaan ini adalah pada teknologi terbarukan, pengurangan emsisi karbon, dan investasi dalam hutan atau reforestasi, menjadi tujuan mereka.

Selain itu ada deglobalisasi yang menjadi dimensi lain, atas pertimbangan investor. Demikian lebih lanjut, dengan adanya pergeseran dari globalisasi ke de-globalisasi, investor mencari pasar yang dapat berdiri sendiri, sehingga tanpa perlu mengandalkan jasa impor.

Dengan dorongan, dalam negeri yang berusaha untuk menekan impor, demi mengeseimbangkan produk atau jasa lokal. Dan lebih dari itu, mengurangi dampak inflasi akibat produk-produk impor yang beredal didalam negeri.

Terakhir, adanya AI yang menjadi dinamika tersendiri, karena investor ini mencari perusahaan yang mamppu menggabungkan kecerdasan buatan dengan etika dan keamanan.

Namun, demikian AI tersebut menjadi suatu peringatan karena potensi risikonya yang amat besar. Lebih lanjut, AI akan mengancam sektor-sektor keamanan data privasi dan menjadi boomerang bagi keberlanjutan pekerjaan manusia.

Tags
– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By