Menu
Diperkirakan Rupiah Menguat Hingga 0,51%

Diperkirakan Rupiah Menguat Hingga 0,51%

Nilai ganti rupiah berkesempatan kuat lagi pada Jumat (3/11/2023) susul peraturan Bank Sentra Amerika Serikat (AS) Federasi Reserve atau The Fed yang meredam pergerakan peningkatan tingkat suku bunga referensi.

Shandy Aulia 5 bulan ago 12

CNBC Media – Nilai ganti rupiah berkesempatan kuat lagi pada Jumat (3/11/2023) susul peraturan Bank Sentra Amerika Serikat (AS) Federasi Reserve atau The Fed yang meredam pergerakan peningkatan tingkat suku bunga referensi.

The Fed menjaga suku bunga referensi konstan di dalam 22 tahun pada range 5,25%-5,5% pada tatap muka ke-2 yang diadakan pada 31 Oktober-1 November 2023.

Ketua The Fed Jerome Powell dalam pertemuan jurnalis menjelaskan ongkos utang pasar harus semakin tinggi dengan berkesinambungan supaya bisa memengaruhi opsi peraturan moneter bank sentra di masa datang.

“Dalam pertemuan jurnalis, Powell menulis jika dampak negatif jadi makin imbang; itu memperlihatkan sedikit dovish,” kata Amo Sahota, direktur Klarity FX di San Francisco.

Bersamaan dengan keputusan The Fed, nilai ganti rupiah pada dolar AS ditutup kuat 80,50 point atau 0,51% ke arah tingkat Rp15.855 per dolar AS pada Kamis (26/10/2023).

Adapun index dolar AS menurun 0,47% ke 106,38. Mata uang lain di teritori Asia sebagian besar kuat. Won Korea, seumpama, kuat 1,06%, Yen Jepang naik 0,31%, dan baht Thailand kuat 0,40%. Seterusnya, dolar Singapura tumbuh 0,09%, ringgit Malaysia kuat 0,38%, dan peso Filipina naik 0,36%.

Riset pasar mata uang Lukman Leong menjelaskan sikap Ketua The Fed Jerome Powell yang condong dovish akan sanggup memberikan dukungan peningkatan nilai ganti rupiah untuk periode pendek. Walaupun investor perlu mengetahui, jika The Fed benar-benar tidak tidak pedulikan kemungkinan untuk meningkatkan suku bunga di masa datang.

Dalam pada itu, dalam periode menengah atau mulai awalnya tahun depannya, rupiah berkesempatan kuat lagi bersamaan dengan pembaruan ekonomi global. “Untuk periode menengah dan panjang, mulai awalnya 2024, rupiah mempunyai potensi kuat lagi oleh keinginan perbaikan perekonomian global karena bank sentra dunia mulai masuk babak untuk turunkan suku bunga,” katanya ke Usaha, Kamis (2/11/2023).

Menurut dia, hal itu akan memberi peluang untuk Bank Indonesia untuk lakukan yang masih sama. Dengan ekonomi yang sembuh, harga komoditas diharap naik hingga menaikkan penghasilan export dan persediaan devisa yang pada akhirannya perkuat rupiah.

“Tetapi, untuk periode pendek, faktor ketidakjelasan geopolitik perang Israel-Palestina, Rusia-Hamas dan harga minyak mentah dunia yang lebih tinggi terus akan memberatkan rupiah,” katanya.

Direktur Keuntungan Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan jika Ketua The Fed Jerome Powell memberi suara yang tidak begitu hawkish dibanding harapan pasar. Hal itu dengan pernyataan jika keadaan moneter sudah alami pengetatan secara signifikan sepanjang sejumlah bulan akhir.

“Pasar memandang hal itu sebagai lampu hijau untuk selalu berdasar pada kesempatan di bawah 20% jika suku bunga akan naik di bulan Desember,” tutur Ibrahim. Ibrahim memprediksi nilai ganti rupiah pada perdagangan pada Jumat (3/11/2023) akan bergerak naik-turun tapi ditutup menurun di bentang Rp15.800 sampai Rp15.890 per dolar AS.

– Advertisement – BuzzMag Ad
Written By